larisnya obat
semacam permen cinta adalah
bukti masih banyak orang yang
membutuhkan sugesti untuk
memacu libido. Padahal, kata
Wimpie, makanan perangsang libido hanya memberi pengaruh
psikologis, yang biasa disebut efek
plasebo. Namun efek plasebo
sendiri baru bisa bekerja jika
didukung rangsang sentuhan. Pengajar Ilmu Gizi Universitas
Pembangunan Nasional (UPN)
Veteran, Jakarta, Firlia Ayu Arini,
mengatakan bahan makanan yang
bisa meningkatkan gairah bercinta,
atau biasa disebut afrodisiak, lekat dengan mitos. Mitos tersebut
berangkat dari kebiasaan
masyarakat menganalogikan bahan
makanan tertentu dengan bentuk
alat kelamin manusia. Misalnya
tiram, pisang, torpedo, dan alpukat. Adapun secara ilmiah, afrodisiak
biasanya mengandung zat
penghasil hormon yang berkhasiat
sebagai stimulan gairah seksual,
yakni zat yang bersifat
neurotransmitter, seperti dopamine, norepinephrine, dan
phennylethylamine. Makanan
berprotein tinggi, seperti telur,
susu, dan kacang-kacangan,
adalah contoh bahan yang kaya zat
tersebut. Baik dopamine maupun
norepinephrine diketahui
merangsang otak untuk
memproduksi endorfin, yang
membuat seseorang menjadi lebih
peka menerima rangsangan seksual. Endorfin itu sendiri diproduksi
dalam jumlah besar oleh otak saat
seseorang orgasme, dan
menimbulkan perasaan rileks, puas,
dan nyaman. Pengaruh afrodisiak juga berbeda
pada setiap orang. Menurut Firlia,
besar-kecilnya pengaruh tersebut
bergantung pada seberapa banyak
afrodisiak yang diasup, jenis
kelamin, serta stamina seseorang saat mengkonsumsinya. "Stamina
sangat mempengaruhi. Kalau si
pemakan afrodisiak sedang lelah,
ya, jelas efeknya tidak begitu
terasa," kata dia. Faktor psikologis, dalam hal ini
tingkat kepercayaan seseorang
pada afrodisiak, juga ikut
berpengaruh. Dijelaskan Firlia,
sejumlah afrodisiak memang
memiliki khasiat untuk gairah seksual. Tanpa ditopang sugesti,
khasiat tersebut tidak akan
bekerja secara optimal. Yang digarisbawahi Firlia,
afrodisiak tidak bisa bekerja
secara instan. Itulah sebabnya, ia
masih ragu terhadap kandungan
permen cinta yang diklaim bisa
meningkatkan libido perempuan hanya dalam belasan menit.
"Efeknya tidak cepat, ya. Proses
pencernaan makanan saja bisa
memakan waktu 1,5 jam dalam
tubuh," ujarnya. Psikolog Rima Olivia menyatakan
prihatin atas kehadiran permen
cinta. Menurut Rima, kehadiran
permen ini salah kaprah ketika
dikaitkan dengan pembangkit
gairah. “Kalau dikatakan mengandung efek endorfin atau
perasaan happy alias bahagia, itu
bisa didapat dengan olahraga,
menari, dan bernyanyi. Saya tidak
yakin permen ini jadi obat
mujarab, apalagi pembangkit gairah,” kata pemilik Ahmada
Consulting ini. Menurut Rima, memang ada mitos
tentang makanan yang bisa
membangkitkan gairah seks.
Misalnya, setelah menyantap
cokelat, akan timbul efek tenang
dan lebih fokus saat berhubungan intim. Tapi, bagi perempuan,
gairah dalam berhubungan intim
itu lebih kepada masalah perasaan,
bukan karena afrodisiak seperti
permen cinta. “Makanya,
kehadiran permen cinta bukan sebuah solusi. Karena, dalam
berhubungan intim, perempuan
lebih senang dibelai dan disayang,
yang bentuknya perhatian,”
ujarnya. Rima mengingatkan agar sebaiknya
tidak terpancing permen yang
sepintas memberikan efek gairah
atau membahagiakan. "Permen
cinta tetap harus diwaspadai,
karena bisa saja permen ini justru berbahaya bagi kesehatan tubuh
yang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar